Kamis, 28 April 2016

SEJARAH WIASATA ALAM
BATU RADEN

SEJARAH BATURRADEN 

Baturraden merupakan salah satu obyek wisata andalan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Sejak tahun 1928, Baturraden dikenal sebagai obyek wisata pegunungan. Pengunjung bisa menikmati keindahan pemandangan alam dan udara pegunungan yang sejuk dengan suhu antara 18°C-25°C. Dalam kondisi cuaca yang bagus dan cerah, pemandangan Kota Purwokerto, Nusakambangan, dan pantai Cilacap dapat terlihat dengan jelas dari puncak Baturraden.

Nama Baturraden berasal dari dua kata (bahasa Jawa), yaitu Batur (bukit, tanah, teman, pembantu) dan Raden (bangsawan). Bila digabung, kata “Baturraden” dapat bermakna: tanah yang datar atau tanah yang indah. Ada dua versi sejarah Batu Raden, yaitu versi Syekh Maulana Maghribi dan versi Kadipaten Kutaliman. Menurut versi yang pertama, Syekh Maulana Maghribi, Pangeran Rum yang berasal dari Turki dan beragama Islam, pernah merasa penasaran dengan cahaya terang misterius yang menjulang ke angkasa dan bersinar di bagian timur. Sang Pangeran kemudian mencari asal cahaya tersebut. Singkat cerita, setelah melakukan pendakian hingga ke puncak sebuah gunung, Sang Pangeran melihat ada seorang pertapa Buddha yang bersandar pada sebuah pohon jambu yang memancarkan sinar cahaya ke atas. Lokasi ini kemudian dikenal dengan sebutan Baturraden. Sedangkan menurut versi kedua, cerita Baturraden terkait dengan kisah cinta antara anak perempuan Adipati Kutaliman dengan pembantunya yang menjaga kuda.

Luas tanah keseluruhan kawasan obyek wisata Baturraden adalah 16,5 Ha, dengan luas lahan investasi 4 Ha. Status tanah adalah HPL (hak pengelolaan) Pemerintah Daerah (Pemda).
Keistimewaan Baturraden terletak pada aneka ragam jenis obyek wisata yang ditawarkan. Di samping wisata utama Baturraden, di kawasan ini juga terdapat banyak lokasi wisata lain yang juga menarik untuk dikunjungi, di antaranya adalah:
1. Taman Botani. Taman ini menyediakan aneka ragam tanaman hias, tanaman bongsai, dan tanaman langka, seperti Tanaman Havana, Daun Dewa, Brimulia, Keladi Tikus, Antarium Lipstik, Palem Paris, Lidah Gajah, dan Widoro Laut. Harga tanaman-tanaman ini terbilang cukup murah dan dapat dijangkau oleh pengunjung yang ingin menjadikannya sebagai cinderamata.
2. Curug Gede. Obyek wisata ini terletak di Desa Wisata Ketenger, jaraknya kurang lebih 3 km dari Baturraden. Di sana terdapat sebuah air terjun yang indah.
3. Pancuran Pitu, yang berjarak 2,5 km dari Baturraden. Pancuran ini terletak 2,5 km dari Baturraden. Pancuran ini merupakan sumber air panas bumi dengan temperatur 60°-70° C yang langsung mengalir dari kaki Gunung Slamet melalui tujuh pancuran.
4. Pancuran Telu. Pancuran ini diresmikan pada tanggal 18 Januari 1987. Pancuran ini mengalirkan air panas bersulfur dengan suhu 40‘C yang konon dapat menyembuhkan penyakit kulit dan tulang.
5. Wana Wisata. Obyek wisata ini terletak 2 km dari Baturraden. Wana Wisata menyajikan pemandangan hutan yang hijau dan indah. Tempat ini sangat cocok untuk kegiatan berkemah dan jungle tracking.
6. Telaga Sunyi. Telaga ini terletak di sebelah timur, yang berjarak sekitar 3,5 km dari Baturraden. Telaga ini terbilang indah, airnya jernih dan dingin.
7. Taman Kaloka Widya Mandala, yang merupakan kebun binatang sekaligus sebagai wisata pendidikan. Di taman ini terdapat sejumlah binatang yang didatangkan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, seperti kambing kaki tiga, gajah, beruk, sapi kaki lima, ular sanca, monyet, landak, buaya Irian, orangutan, dan rusa. Di komplek wisata ini juga terdapat Museum Satwa Langka yang berisi binatang seperti beruang madu, harimau Sumatera, dan macan dahan.

Di samping obyek wisata yang cukup banyak, kawasan Batu Raden ini juga diwarnai dengan fasilitas seni dan budaya, yaitu:
  1.  Grebeg Syura atau Sedekah Bumi. Upacara ini dilakukan pada tanggal 9 Bulan Syura. Tujuannya adalah sebagai tolak bala, yaitu dengan melakukan kegiatan-kegiatan berupa ruwat bumi dan selamatan di makam-makam leluhur.
  2.   Kenthongan, merupakan kesenian musik khas Banyumas. Alat utama kesenian ini adalah kenthong yang berupa potongan bambu yang diberi lubang di sisinya secara memanjang. Untuk memainkannya perlu dikentong.
  3.  Calung dan lengger. Calung merupakan alat musik yang juga terbuat dari potongan bambu, diletakkan secara melintang, dan dimainkan dengan cara dipukul. Sedangkan lengger adalah tarian yang dimainkan dua orang perempuan atau lebih dan diiringi dengan calung.
  4. Pakaian adat Banyumas. Pakaian adat Banyumas ada dua macam, yaitu pakaian untuk kalangan wong cilik (seperti pakaian ancingan, bebed wala, pinjungan, iketan, dan nempean) dan pakaian untuk kalangan bangsawan (beskap untuk pria dan nyamping untuk perempuan).
  5. Ebeg (kuda lumping). Ebeg merupakan tarian tradisional Banyumas dengan ciri khasnya menggunakan kuda kepang. Dalam pertunjukan biasanya diiringi dengan gamelan yang bernama bendhe.
  6.  Pameran tanaman hias, seperti havana, daun dewa, dan palem paris.
  7.  Sadranan. Ritual ini berupa bersih-bersih makam yang dilanjutkan dengan acara kenduren. Tujuannya adalah untuk mengenang arwah para leluhur.

Baturraden terletak di sebelah selatan kaki Gunung Slamet pada ketinggian sekitar 640 meter di atas permukaan laut. Lokasi obyek wisata ini berada di sebelah utara dan berjarak sekitar 14 km dari Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.
Untuk menuju lokasi, pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dari Kota Purwokerto perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 15 menit. Pengunjung bisa menggunakan angkutan umum dari terminal Kebondalem Purwokerto menuju lokasi wisata Batu Raden. 

 

Pancuran Pitu Baturaden, Eksotisme Alam dan Nuansa Air Panas.

 
Tak banyak Petualang yang tau dimana Pancuran Pitu berada, namun ketika disebut Baturaden, maka hal pertama yang menjadi angan-angan adalah salah satu wisata alam yang ada di Jawa Tengah, lebih tepatnya di Kabupaten Banyumas. Pancuran Pitu berasal dari bahasa Jawa, pancuran berarti air terjun (water fall) dan pitu berarti tujuh. Jadi Pancuran Pitu artinya sebuah air terjun yang berjumlah tujuh. Mengingat ini adalah sebuah eksotisme alam, bukan berarti obyek wisata Pancuran Pitu memiliki grojogan yang tinggi. Pancuran Pitu memiliki tinggi air tajuh sekitar 1 meter, yang menarik dari Pancuran Pitu adalah tujuh buah lengkungan air terjun yang tercipta akibat aliran air panas (belerang) secara terus menerus.

 
Pancuran Pitu terletak di bukit Gunung  Slamet, sekitar 5km dari pertigaan jalan Baturaden ke arah kanan. Jalan yang berkelok dan tikungan tajam membuat Pancuran Pitu susah untuk “didaki” dengan kendaraa
n biasa.  Namun mudah untuk diakses dengan jalan kaki dadi parkir pintu masuk. Di area Pancuran Pitu terdapat eksotisme alam yang lain seperti Goa Selirang dan Telaga Sunyi (Petualangan Selanjutnya). Kondisi jalan yang menukik dan beraspal keras dirasakan oleh semua Petualang yang hendak menuju Pancuran Pitu, namun itu tidak menyurutkan untuk tetap mendaki melewati jalan-jalan sempit bukit Gunung Slamet. Untuk Petualang yang berjalan kaki bisa melewati jalan setapak langsung menuju pintu masuk atau parkir atas Pancuran Pitu dan melanjutkan menuruni tangga demi tangga menuju Pancuran Pitu.

 
Namun lebih mudah ketika Petualang menggunakan sarana kendaraan seperti sepeda motor atau mobil atau angkotan umum untuk menuju ke obyek wisata nan eksostis dan sejuk ini. Jangkauan yang sangat jauh dari kondisi perkotaan dan polusi, membuat Pancuran Pitu menjadi pilihan wisata alam yang berbeda. Sama halnya dengan Grojogan Sewu yang ada di Tawangmangu, Karanganyar yang harus menuruni ratusan anak tangga untuk mencapai air terjun, di Pancuran Pitu Petualang akan menemukan berpuluh anak tangga untuk sampai ke tempat air panas Pancuran Pitu. Biar kaki ndak capek dan pegal, bisa melakukan pemanasan dulu di parkir atas Pancuran Pitu. Namun jangan khawatir bagi Petualang yang ternyata kesleo otot ketika jalan, di Pancuran Pitu banyak jasa memijat dengan media belerang dengan memasang tarif Rp. 10.000,- untuk sekali pijat refleksi (kaki kanan dan kiri).
perjalanan dari lokasi tiket masuk sampai tempat parkir bawah, Petualang akan menemukan eksotisme alam yang masih alami, walaupun beragam ekosistem tumbuhan merupakan tamanan industri seperti Damar. Damar merupakan pohon yang secara industri diambil getahnya (resin). Getah pohon Damar sendiri merupakan bahan pokok  untuk pernis, cat, tinta, kemenyan dan kosmetik. Dan Petualang akan banyak menemukan pohon Damar disepanjang perjalanan menuju Pancuran Pitu. Beragam tanaman juga menyebar disepanjang perjalanan seperti paku-pakuan dan bunga-bunga yang menarik yang sengaja ditaman oleh Perhutani sebagai keindahan.

Harga tiket masuk (tiket terusan) Petualang hanya dikenakan biaya sekitar Rp. 15.000,- untuk menjelajah di Pancuran Pitu, Goa Selirang, Telaga Sunyi dan Pancuran Tiga. Atau kalau hanya ingin secara sendiri-sendiri, Petualang bisa membeli tiket hanya untuk di Pancuran Pitu dan Goa Selirang seharga Rp. 5.000,00. Cukup terjangkau bukan? Lapar dan haus ketika menuju Pancuran Pitu? Tak jadi masalah karena di sekitar area wisata alam air panas tersebut banyak berjajar warung-warung makan yang menyediakan aneka makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Namun, tak jadi masalah untuk menanyakan harga menu yang hendak dipesan untuk menyesuaikan budget Petualang masing-masing.

 

Eksotisme utama yang disajikan di Pancuran Pitu selain alamnya yang sejuk, juga karena air panas belerang yang konon secara ilmiah mampu mengobati berbagai macam penyakit kulit mulai dari gatal-gatal hingga panu. Bahkan banyak Petualang yang sengaja datang untuk melakukan terapi kesehatan air panas belerang setiap bulan. Masyarakat percaya bahwa belerang yang berasal dari Pancuran Pitu dapat mengurangi penyakit kulit yang sedang diderita. Juga memberikan efek pijatan refleksi pada bagian tubuh yang disiram dengan air belerang dari Pancuran Pitu. Kalaupun hanya untuk berendam kaki di air panas atau menyiram bagia kepala, cukup dengan menguyur di depan Pancuran Pitu. Namun bagi yang hendak mandi air panas belerang, Petualang bisa mandi di kolam-kolam kamar mandi tertutup di sebelah Pancuran Pitu. Enak bukan?
Nah, tertarik berpetualang di Kaki Gunung Slamet? Silakan datang ke Pancuran Pitu Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah.
 



PEMANDIAN AIR PANAS BATU RADEN
SEGAR DAN ALAMI

Untuk Anda yang saat ini kebetulan sedang berada di Purwokerto, Jawa Tengah, jangan lupa untuk mampir sejenak ke Baturaden. Di sini, Anda bisa berendam di kolam alam air panas yang alami.

Dengan berendam di air panas, otomatis otot-otot yang tegang akan menjadi terasa rileks kembali. Bukan hanya itu saja, suasana alam yang masih sangat asri di sekitar pemandian akan membuat Anda lebih fresh.

Objek wisata pemandian air panas ini terletak di sebelah selatan Gunung Slamet. Kurang lebih 14 km dari pusat Kota Purwokerto. Tempat wisata yang satu ini sangat terkenal di Jawa Tengah, makanya tak heran kalau dihari-hari libur kolam pemandian ini akan dipenuhi oleh para wisatawan.

Selain tempatnya yang asri dan cenderung dingin, kelebihan dari tempat wisata ini adalah akses jalannya yang sudah sangat mulus. Di sini juga tersedia banyak hotel dan penginapan dengan tarif terjangkau. Untuk menginap, tersedia kamar dengan harga mulai dari  Rp 90.000 hingga Rp 210.000 per malamnya.

pemandian air panas

Untuk masuk tempat wisata ini, Anda diharuskan membayar sebesar  Rp 8.000, Sebuah harga yang tak mahal tentunya, jika dibandingkan dengan keindahan alam yang ada disana. 

Di tempat ini, ada juga yang berjualan belerang dengan harga Rp 1.000 per plastiknya. Namun kalau pintar menawar, Rp 5.000 sudah bisa mendapatkan 12 plastik. Untuk Anda yang kurang puas berendam, Anda bisa menggunakan jasa pijat refleksi dengan tarif Rp 10.000.







WISATA ALAM BATU RADEN


Lokawisata Baturaden (atau Baturaden saja) terletak di sebelah selatan Gunung Slamet memiliki udara sejuk dan cenderung bertambah dingin di malam hari. Selain memiliki panorama alam yang cantik, Baturaden juga memiliki banyak legenda rakyat, salah satunya cerita lutung kasarung yang terkenal.


Baturraden terletak di sebelah utara kota Purwokerto tepat di lereng sebelah selatan Gunung Slamet. Baturraden karena letaknya di lereng gunung menjadikan kawasan ini memiliki hawa yang sejuk dan cenderung sangat dingin terutama di malam hari. Baturraden juga merupakan daerah wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal, terutama pada hari minggu dan hari libur nasional. Kondisi tersebut menyebabkan banyak hotel dan vila didirikan di sini.


Baturraden dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun umum. Jarak dari kota Purwokerto sekitar 15 km dan dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dengan lalu lintas yang tidak terlalu padat. Apabila ingin menggunakan kendaraan umum wisatawan dapat naik angkutan kota dari terminal di Purwokerto dan turun di terminal lokawisata Baturraden. Jika ingin lebih praktis wisatawan dapat menggunakan taksi. Jika memutuskan untuk menggunakan kendaraan pribadi, sebaiknya hati-hati karena jalan yang menanjak dengan kemiringan sekitar 30 derajat.


Baturraden adalah keindahan yang memancar dari lereng Gunung Slamet. Lokasi wisata yang berjarak hanya sekitar 15 km dari kota Purwokerto, Jawa Tengah ini, tak hanya menyimpan panorama alam yang molek, tetapi juga cerita rakyat tentang Raden Kamandaka, atau Lutung Kasarung yang cukup akrab di masyarakat Indonesia.


Selain akses yang mudah, area wisata ini juga menyediakan hotel dan aneka penginapan yang memadai. Di samping, bagi pecinta alam terbuka disediakan camping ground yang nyaman dan aman. Dan tanpa perlu khawatir akan kesulitan memperoleh makanan, karena di area ini cukup banyak pedagang yang menjajakan sate kelinci.

Gunung Slamet dengan lereng-lerengnya yang landai, menawarkan panorama alam yang indah, udara yang segar dan diketinggiaan 1000 m.